27 Juli 2016 - 11:55
Pemuda Syiah dan Sunni Irak Menggelar Shalat Wahdah Di Lokasi Ledakan Bom al Karradah

Sekelompok pemuda Syiah dan Sunni Irak melaksanakan shalat magrib berjamaah pada selasa di lokasi peledakan bom teroris al Karradah kota Bagdad.

Menurut Kantor Berita ABNA, sekelompok pemuda Syiah dan Sunni Irak melaksanakan shalat magrib berjamaah pada selasa di lokasi peledakan bom teroris al Karradah kota Bagdad.

Para pemuda ini menyatakan tujuan mereka melakukan ini adalah untuk membuktikan kedekatan dan solidaritas di antara berbagai lapisan masyarakat serta golongan Sunni dan Syiah di Irak dan menambahkan, “Melalui cara ini kami ingin menunjukkan bahwa kami rakyat Irak tidak akan terpengaruh dengan upaya-upaya memecah belah yang di lakukan oleh sebagian”.

Menurut laporan stasiun televisi al Sumariah; mereka mengatakan tidak ada tokoh keagamaan(mazhab) tertentu yang hadir pada acara ini.

Kementerian Kesehatan Irak mengumumkan, “Jumlah korban ledakan bom teroris al Karradah telah bertambah menjadi 250 orang”.

Sebelumnya di beritakan bahwa jumlah syuhada dalam peristiwa ledakan bom teroris di kompleks perniagaan Hadi Centre di distrik al Karradah pada hari ahad pekan ini mencapai 200 orang meninggal dan sebanyak 213 orang luka-luka.

Beberapa malam sebelumnya para pemuda Irak ini juga menggelar aksi unjuk rasa di lokasi kejadian untuk mengecam aksi teroris ini, mereka menuntut di lakukannya investigasi serta menghukum seluruh pelaku peledakan ini. Mereka mengenang para korban peledakan dengan menyalakan lilin dan menyatakan bahwa aksi peledakan bom ini merupakan wujud nyata pembantaian generasi dan kejahatan atas kemanusiaan.

Kasus serangan teroris di al Karradah masih terus menjadi pemberitaan media-media Irak dan pembincangan tentang sebab-sebab, bentuk serangan, bahan-bahan yang di pakai dalam peledakan serta siapa sesungguhnya pelaku utama tragedi ini masih terus berlanjut.

Dalam kaitannya dengan bahan-bahan yang di gunakan dalam perakitan bom yang meledak, kebanyakan para ahli di bidang keamanan mengatakan bahwa bahan-bahan ini merupakan contoh langka yang hingga kini belum pernah di temukan di Irak.

Ledakan ini sama sekali tidak menimbulkan sebuah lubang di bawah mobil yang meledak, tetapi hancur dan rusaknya daerah cukup luas akibat kuatnya ledakan dan nyala api yang di timbulkan membuktikan bahwa kelompok teroris ISIS untuk pertama kalinya telah menggunakan sebuah bahan-bahan peledak baru.

Sebagian sumber mengatakan bahan-bahan yang telah di gunakan dalam bom adalah bahan sulfur dan Jalaluddin al Shagir Imam mesjid Barasa Bagdad mengatakan bahan yang telah di pakai adalah bahan napalm. Walaupun demikian sampai saat ini hasil penyelidikan pihak-pihak terkait dalam masalah ini belum di umumkan.

Kelompok takfiri ISIS mengaku bertanggung jawab atas kejahatan yang belum pernah terjadi ini dan masyarakat Irak percaya bahwa jejak kaki pemerintah Saudi serta duta besar negara ini di Irak tidak dapat terhapus.

Menyusul terjadinya peristiwa ledakan ini pada dua hari yang lalu, situasi politik di Irak kembali memanas sedemikian hingga memaksa menteri dalam negeri negara ini mengundurkan diri, namun di beritakan bahwa Perdana Menteri Irak belum menerima pengunduran ini.